Sempet senyum-senyum saya pas membaca kalo tetangga Iko dan Hera kadang suka nyasar pas nyetir di Singapura.
Kota kecil gini, kok masih bisa nyasar?
Walaupun kotanya kecil, tapi disini memang agak susah nyari jalan kalau kita belum hapal jalan, karena jalan utama dan expressway yang kadang membingungkan, apalagi dari satu titik A ke titik B itu bisa ada beberapa alternatif jalan yang kelihatannya sama dekatnya. Lebih lagi, lalu lintas yang teratur membuat kita agak sulit untuk menepi dan mencari jalan (atau melihat peta) tanpa menghalangi lalu lintas, beda dengan di Jakarta yang tinggal minggirin mobil keluar jalan.
Makanya disini, planning rute itu sebenarnya perlu. Kecuali kalau kita udah hapal, lebih baik kita cek dulu ke peta mengenai jalan yang akan kita ambil ke tempat tujuan. Jangan berangkat dulu baru bingung cari-cari jalan. Sekali belokan atau putaran yang kita akan gunakan terlewat, muternya bisa lebih jauh dan waktu 10-15 menit pun akan terbuang untuk setiap belokan yang terlewat. Apalagi kalau waktu peak hour yang kadang macetnya sudah menyaingi Kuala Lumpur atau Jakarta.
Nah, bagi yang males atau kurang mahir baca peta, penggunaan GPS bisa menjadi alternatif. Apalagi, kalau kita udah punya smartphone atau PDA, baik yang berbasis Windows Mobile maupun Symbian, kita tinggal beli GPS receiver yang di-pair ke handphone kita dengan menggunakan fasilitas bluetooth. Jadi tidak perlu beli GPS device yang harganya selangit itu. Karena saya sudah punya handphone Dopod 818 Pro yang berbasis Windows Mobile 5.0 (belum sempet upgrade ke 6.0 nih), saya memilih GPS 10x receiver merk Garmin yang memang merupakan market leader-nya di bidang GPS. Harganya S$190, saya beli di toko Perfect Watch di Sim Lim Square lantai 1. Kalau mau GPS receiver yang lebih murah, katanya sih merk Holux juga bagus. Salah satu model GPS receiver Holux yang popular adalah tipe M-1000, harganya S$129 dan bisa dibeli di East Gear. Walaupun demikian, model tersebut adalah model lama yang sekarang sudah digantikan oleh beberapa model baru seperti M-1200 dan M-241 yang juga berfungsi sebagai logger dan katanya harganya sekarang juga sudah semakin murah (saya belum sempet cek harganya). Jadi sebenarnya, kita hanya butuh biaya sekitar S$100-S$190 saja untuk menjadikan PDA kita sebagai alat navigasi GPS.
Setelah GPS receiver tersebut di-pair ke handphone kita dengan menggunakan bluetooth, baru kita install software untuk navigasi dan peta-nya. Karena saya menggunakan GPSr Garmin, saya memilih untuk menggunakan software Garmin Mobile XT yang bisa kita download (walaupun tidak secara utuh) di website-nya Garmin. Tadinya saya menggunakan software Garmin Que, tapi ternyata software ini kurang stabil dijalankan di PDA saya, sehingga saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan Garmin Mobile XT.
Kalau software navigasi-nya pakai Garmin, maka peta-nya juga harus pake peta versi Garmin. Untungnya, peta versi Garmin ini banyak tersedia dan merupakan versi standar kebanyakan peta yang digunakan oleh pengguna GPS. Peta versi Garmin untuk wilayah Singapura (dan Malaysia) saya download secara gratis dari situs Malsingmaps. Bagi rekan-rekan yang membutuhkan peta Jawa, Bali dan beberapa daerah lainnya di Indonesia, peta-nya juga bisa di-download secara gratis di situs Navigasi.Net. Selain versi Garmin, software navigasi dan peta lainnya yang cukup terkenal adalah versi Mapking. Tapi sayangnya software ini tidak gratis, kita harus membeli software Mapking-nya dulu walaupun peta-nya bisa kita dapatkan secara gratis.
Perlu diketahui bahwa software Garmin Mobile XT hanya bisa digunakan dengan GPS receiver merk Garmin. Kalau kita menggunakan GPS receiver merk lain (misalnya Holux), kita harus menggunakan software Garmin Que ditambah software GPSProxy supaya Que-nya bisa berkomunikasi dengan GPS receiver-nya. Nanti kalau sempat, saya akan tulis lebih detail mengenai step-by-step bagaimana saya melakukan instalasi Garmin Que dan Garmin Mobile XT beserta peta-nya ke PDA saya yang berbasis Windows Mobile. Saya banyak mendapatkan informasi berguna mengenai serba-serbi GPS dari situs wiki-nya Malsingmaps.
Jadilah, sekarang saya menggunakan GPS untuk bepergian keliling Singapura. Minggu lalu saya juga mencoba untuk menjajal GPS-nya ke Johor, Malaysia, dan ternyata peta yang saya dapat dari Malsingmaps cukup akurat dan bisa diandalkan.